Selasa, 17 Juni 2008

Kuala Jambo Aye Dangkal

Kuala Jambo Aye Dangkal, Ratusan Nelayan Mengeluh

Laporan : Taufik

SEUNUDDON, Aceh Utara : Pasca bencana gempa dan tsunami, Kuala Jambo Aye dangkal. Akibatnya, 300-an nelayan tradisional pukat langga mengeluh, karena tidak bisa mendaratkan ikan tangkapannya di TPI Teupin Kuyuen, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Selasa (17/6). Selama ini, hasil tangkapan nelayan itu terpaksa didaratkan ke Kuala Idi atau ke Kuala Langsa, Aceh Timur, dengan biaya yang lebih mahal.

Nurdin Wahab, Palima Laot, Kecamatan Seunuddon, kepada Wartawan, Selasa (17/6) mengatakan, pihaknya meminta Pemerintah daerah Aceh Utara melalui dinas terkait untuk segera melakukan pengerukan terhadap Kuala Jambo Aye. Kata dia, kedalaman Kuala Jambo Aye sebelum terjadi peristiwa bencana alam gempa bumi dan tsunami mencapai tujuh meter, dengan lebar 150 meter dan panjang 750 meter.

“Sekarang kedalamannya hanya satu meter. Dengan begitu, kami para nelayan di Kecamatan Seunuddon, tidak bisa mendaratkan ikan tangkapan di TPI Teupin Kuyuen, dan selama ini kami juga terpaksa harus ke Kuala Idi dan Kuala Langsa,” jelas Nurdin Wahab.

Kata Nurdin, biaya yang harus dikeluarkan para nelayan untuk mencapai Kuala Idi dan Kuala Langsa membutuhkan 500 liter minyak. “Biasanya kalau kita melaut itu menghabiskan waktu selama lima hari dengan kebutuhan minyak satu ton, karena harus ke Kula Idi dan Kuala Langsa, maka minyak harus kami tambah lagi, sampai 500 liter,” katanya.

Apabila pendaratan ikan dapat dilakukan di TPI Teupin Kuyuen, Seunuddon, maka pendapatan masyarakat di Aceh Utara, khususnya warga Kecamatan Seunuddon dengan sendirinya akan bertambah. “Karena ikan harus kita bawa ke Aceh Timur, maka kita mengalami kerugian setiap hari mencapai Rp150 juta. Setiap satu boat mampu menghasilkan setiap hari Rp5 juta, kalikan 300 unit boat,” ujar Nurdin.

Hal itu juga disampaikan M. Yunus, 40, salah seorang nelayan di Desa Ulee Rubeik Timu, Kecamatan Seunuddon, kata dia, akibat dangkalnya Kuala Jambo Aye, pendapatan masyarakat nelayan berkurang, karena biaya operasional yang dikeluarkan setiap hari cukup besar.

“Biaya yang kita keluarkan setiap hari mencapai Rp150 ribu, sementara rizki yang kita dapatkan di laut tidak tentu. Karena itu kepada Pemerintah Aceh Utara, kami masyarakat nelayan sangat mengharapkan perhatiannya, dan kami mohon pengerukan Kuala Jambo Aye dapat disegerakan,” pinta M. Yunus

Sementara itu, Azhari Hasan, SH, Kabag Humas Aceh Utara, saat dihubungi Wartawan, Selasa (17/6) via telepon meminta para nelayan untuk segera membuat laporan tentang dangkalnya Kuala Jambo Aye, dan dengan surat itu, Pemerintah daerah Aceh Utara akan mengajukan dana untuk pengerukan melalui dana APBD-P kepada DPRK kabupaten setempat.

Tidak ada komentar: