Minggu, 11 Mei 2008

Rapa-i daboh

Hawa Mistis Iringi Suara Rapa-i Daboh

Laporan : Taufik

Minggu dini hari, riuh genderang rapa-i daboh memenuhi seantereo desa Ie Tarek, yang letaknya jauh di pelosok desa di Kecamatan Simpang Keramat. Setidaknya ada 100 orang penabuh rapa-i yang secara terus-menerus menabuh hingga Subuh datang.

Ada secamacam hawa magis yang ditebarkan genderang, membangkitkan semangat, irotis, heroik yang menyihir penonton. Terkadang memang sampai ada pertunjukan menikam diri dengan rencong atau belati. Tapi rapa-i daboh yang berlangsung malam itu tidak begitu, sebab menurut muslim, warga setempat, pertunjukan seperti itu dikhawatirkan akan beresiko.

Demikianpun, tabuhan genderang itu sudah cukup menggetarkan malam. Apalagi suaranya yang nyaring, mengalir cepat hingga ke bukit-bukit dan lembah-lembah yang jauh. Dan malam yang sunyi senyap itu seperti basah oleh keringat para penabuhnya. Bunga-bunga hutan menebarkan aroma ghaib, mengiringi hawa magis yang menggairahkan malam.

Malampun jadi hangat. Orang-orang keluar rumah, berkerumunan di depan Meunasah, tempat peasan (acara) itu berlansung. Tidak hanya orang dari desa setempat, tapi banyak juga khalayak lainnya, yang khusus ingin menyaksikan pertunjukan semalam suntuk itu.

Pedagang musiman pun tidak ketinggalan mengambil kesempatan itu untuk mencari tambahan. Malam di desa pinggir kaki gunung itu berubah layaknya pasar malam. Sungguh suasana yang sebelumnya sangat jarang terjadi, bahkan tidak mungkin, sebab keramaian malam semasa konflik dianggap mengacaukan kegiatan operasi.

Naumun kesenian tradisional Aceh yang kini tergolong langkan itu kembali menghidupakan suasana malam yang sudah lama mencekam. Damai memberikan ruang ekspresi, dan bangkitnya kembali dunia kesenian tradisional di Aceh.

Pertunjukan rapa-i daboh sangat jarang tampil, kecuali pada ajang atau event-event tentertu. Biasanya pertunjukan rapa-i berlangsung setiap ada peringatan hari-hari besar nasional yang digelar di kabupaten atau kecamatan.

Biasanya setiap desa memiliki satu grup rapa-i, ada pertandingan antara kru satu kampung dengan kampung lainnya. Dalam suatu pertandingan umumnya empat grup tampil, yang melibatkan empat kampung. Dengan sendirinya pula warga dari empat kampung itu akan ramai-ramai menyaksikan.

Walaupun empat grup yang tampil, dalam pertandingan cuma ada dua kubu. Satu kubu terdiri dua grup (dua desa) yang bertanding secara terpisah. Berarti dalam sebuah pertunjukan akan ada dua pertandingan, yang masing-masing pertandingan memakan waktu sedikitnya dua jam. Pertandingan itu sendiri biasanya baru dimulai sekitar pukul 23:00 atau pukul 00:00 dini hari, dan berakhir menjelang waktu subuh.

Uniknya dalam pertandingan itu penonton yang menjadi juri. Dan kemenangan itu nantinya bukan pada pemain, melainkan penonton, yang esok harinya akan menjadi bahan perbincangan. “Lazimnya dalam sebuah event memang ada juri ahli. Tapi ini cuma pertandingan persahabatan. Menjaling kemestraan antara orang kampung sana dengan di sini,” jelas Mahyeddin.

Rapa-i daboh adalah permainan yang membutuhkan tenaga ekstra, keahlian, konsentrasi dan tangan yang kekar. Maka, umumnya para pemain daboh berdada bidang dengan otot-otot yang terbentuk. Peluh membasahi anggota tubuh, bahkan seperti tersiram hujam. Dan pukulan genderang itu semakin membuat penonton takjub dengan kebolehan yang padu.

Keindahan kesenian itu terletak pada taing (kenyaringan suara) dan irama yang padu. Sebelum pertunjukan di mulai, mereka rela bersusah payah mengetatkan genderang dengan rotan. Setiap seminggu sekali mereka tidak pernah meninggalkan latihan, dan mendanai semua kegiatan itu dengan uang pribadi.

Tokoh masyarakat setempat, Ismail mengatakan, selain pertunjukan itu langka, dan hanya waktu-waktu tertentu saja, menyebabkan rapa-i daboh menjadi kesenian yang ekslusif. Apalagi, mereka mempunyai banyak pertimbangan sebelum pertunjukan itu diadakan.

Rapa-i daboh memang harus membaca keadaan. Jika suatu desa sedang musibah, atau ada orang sakit, pertunjukan akan dibatalkan. “Suara rapa-i daboh sangat besar. Tentu akan menganggu orang sakit. Jadi pertunjukan ini benar-benar terlaksana kalau keadaan kampung betul-betul aman dan sehat,” tandasnya.

Dia jiga menambahkah, kerena Rapa-i daboh itu memeng kesenian khas aceh yang sudah hampir hilang di masyarakat. Dia berharap agar pemerintah daerah memperhatikan atau sama sama ikut melestarikan budaya aceh itu.ujarnya. (***)

Tidak ada komentar: