Minggu, 11 Mei 2008

Bukti Sejarah Perjuangan Masyarakat

Bukti Sejarah Perjuangan Masyarakat Lhokseumawe Menentang Penjajah Jepang Tak Terurus

Laporan : Taufik

LHOKSEUMAWE : Sejumlah bukti sejarah perjuangan masyarakat Lhokseumawe tempo dulu dalam menentang penjajah jepang dibiarkan terbengkalai. Selain tiga kurorok (tempat perbunyian) di Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, sejumlah benteng pertahan sepanjang pantai Ujong Blang, Kec. Banda Sakti juga tak terurus.

Pantauan Wartawan, Kurorok sebagai tempat persembunyian dalam tanah di bawah bukit karang sangat mengagumkan. Menurut keterangan pakar sejarah dari Seksi Pariwisata setempat, kendati liang besar di bawah bukit telah dihajar dua kali oleh gempa bumi sangat dasyat di Aceh, namun sedikit pun tidak mengalami keretakan. “Mungkin sengaja dipilih di bukit tanah bercampur karang, sehingga sangat kokoh,” jelas petugas Pariwisata saat berkunjung ke lokasi yang berada di sampaing pabrik pengolahan gas PT.Arun NGL.

Lubang besar setinggi tubuh orang dewasa, menurut dia, dibuat tentara Jepang karena selalu mendapat serangan hebat dari masyarakat Lhokseumawe kala itu. “Sesuai dengan beberapa cerita saksi yang hidup pada saat itu, lubang ini dikerjakan warga setempat karena dipaksa penjajah,” tambah Kasi Pariwisata Kota Lhokseumawe, A.Hadi. Lubang berbentuk oval, menyerupai kaki-lima toko yang di bagian sisinya dipenuhi dengan lubang berbentuk kamar.

Di dalam kamar-kamar kecil ini diperkirakan memiliki berbagai fungsi. Di dalamnya masih tersisa bekas tempat tidur, tempat memasak, bahkan bekas tempat tahanan. Namun akibat sering dimasuki air lewat pintu masuk bagian-bagian berbentuk kamar becek dan berlumpur. “Kalau setiap pintu masuk kita buat penghalang agar air tidak masuk, kondisinya akan bagus,” jelas Kadis Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Lhokseumawe, Zulkifli Yusuf. Di sekitar kurorok itu juga terdapat dua tempat pensembunyian lainnya. Karena berda persisi di sekitar jalan masuk, tempat-tempat itu diduga digunakan untuk para pasukan pengawal.

Untuk melestarikan peninggalan bersejarah peninggalan Jaman Jepang, Pemko Lhokseumawe baru mengalokasikan dana Rp.50 juta melalui APBK TA-2007. Sehingga hanya atap pintu gerbang dari beton dapat direalisasikan. Sementara jalan lintas melalui Makam Pahlawan sepanjang 300 meter ke lokasi baru dibuka pihak NGO. Mereka merencanakan mebangunan rumah sakit tidak jauh dari lokasi itu.

Di atas bukit yang sangat luas ini juga dapat dibangun lokasi pariwisata. Para pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh pantai yang melingkari Kota Lhokseumawe dari atas. Puluhan kapal besar dan ratusan boat nelayan terlihat jelas terapung di laut. Begitu juga dengan tangki raksasa milik PT.Arun LNG tersebar sepanjang pantai. Bila pemerintah berani mengelola lokasi itu, hampir dapat dipastikan akan menjadi asset daerah yang mampu meraup keuntungan besar. Selain itu, warga sekitar yang dapat memanfaatkan keramaian pengunjug dengan menjadi pejajan makanan, demikian Zulkifli

Tidak ada komentar: