
Kami Butuh Dokter Yang Mau Tinggal Bersama Kami
Laporan : Taufik
“Akhirnya sampai juga” kata Armiadi,26, salah seorang wartawan dari salah satu harian lokal Aceh. Tempat tujuan yang dimaksud Armia, begitu teman-teman sering memanggilnya, adalah sebuah kecamatan termuda di Kabupaten
Letak kecamatan tersebut lebih kurang 32 kilometer arah timur Kota Lhokseumawe. Menuju ke
Selain itu, drainase dimaksud juga telah ditutupi rumput liar. Kondisi itu membuktikan parit jalan tersebut sudah tidak berfungsi lagi. “Aduh…sakit,”teriak Armia, ketika mobil yang kami tumpangi melindas salah satu lubang yang memiliki
Pada pukul 12:00 siang, kami sampai di tempat tujuan, yakni di pusat
Kebetulah di
Selesai makan, kami sempat terlibat pembicaraan serius dengan beberapa penduduk setempat. Katanya, hingga sekarang ini di kecamatan mereka itu belum ada dokter yang benar-benar mau tinggal bersama mereka. Padahal, sebut mereka lagi, pemerintah telah menyediakan segala fasilitas hidup untuk dokter di lingkungan Pukesmas itu juga.
“Dokter yang bertugas di sini jarang masuk. Jika pun masuk, dia tidak tinggal bersama kami, setiap sore dia pulang. Bukan hanya dokter yang tidak mau tinggal bersama kami, para perawat dan bidan desa juga, setiap sore mereka semua pulang dan tak jarang mereka pulang sebelum jam 12:00,”kata kak Ros,35, warga
Kak Yus,30, salah seorang ibu rumah tangga lainnya menimpali pembicaraan kami. “Bapak tau gak…dulu ada saudara kami dengan terpaksa harus melahirkan bayinya di mobil, karena di kecamatan ini tidak dokter dan bidan desa yang mau tinggal bersama kami. Sedih rasanya pak, belum lagi kondisi jalan rusak parah. Rencananya, saudara kami itu, mau dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Mutia, yang jaraknya mencapai 32 kilometer dari sini,”jelas kak Yus dengan nada serius.
Atas cerita beberapa warga, penulis dan Armia sepakat untuk menjumpai Camat kecamatan setempat, yang kebetulan
“Kita sudah sering menyurati Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, agar dia dapat menyediakan seorang dokter yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Tapi
Dokter yang ditempatkan di daerah itu dulunya seorang perempuan, karena hamil dia tidak bisa masuk kerja hingga beberapa bulan lamanya. Karena sudah kita
Alfian, Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) menanggapi persoalan itu mengatakan, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara harus dengan segera membuat Standar Pelayan Maksimal (SPM), dengan adanya SPM masyarakat akan mudah nantinya mengkomplain setiap penyimpangan yang dilakukan pihak kesehatan kepada diri mereka. Jika hal ini dibiarkan terus, persoalan kesehatan di
“Hanya Aceh Utara yang belum membuat SPM, sementara di kabupaten/kota lain sudah lama memberlakukannya,” ujar Alfian.
Drg. Hadi Kusumah, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara yang berhasil dihubungi Waspada via telepon mengatakan, dirinya belum begitu paham dengan kondisi masyarakat di sejumlah kecamatan yang ada, pasalnya, dia baru saja menduduki jabatan itu. Karenanya dia meminta waktu untuk mempelajarinya dan dia juga berjanji akan menempatkan seorang dokter yang bersedia tinggal bersama dengan masyarakat Kecamatan Geureudong Pase.
Dengan cara mengajukan permohonan itu kepada bupati agar dapat mengeluarkan SK nya untuk seorang dokter laki-laki, sehingga nantinya dia dapat mengabdikan hidupnya kepada masyarakat di
Dia juga mengakui kalau pihaknya sudah beberapa kali menerima


Tidak ada komentar:
Posting Komentar