Jalan Kecamatan Geureudong Pase Kupak Kapik
Laporan : Taufik
GEUREUDONG PASE,
“Kami merasa kesulitan pada saat menurunkan hasil kebun ke pasar. Jangankan mobil, sepeda motor saja sulit melintasi jalan ini. Karena itu, kami lebih memilih menjual hasil kebun kepada para agen yang masuk ke kampung kami dengan harga yang relative murah. Padahal, kalau saja kita turunkan sendiri ke pasar harganya sedikit lebih tinggi,” ucap Lukman, 30, salah seorang
Beberapa jenis hasil perkebunan masyarakat yakni kakao, sawit, pinang, karet, jangung dan beberapa jenis tanaman palawija lainnya.
Lukman, 28, salah seorang tokoh pemuda Kecamatan Geureudong Pase kepada Wartawan, Jum’at menjelaskan, beberapa waktu lalu, seorang ibu terpaksa melahirkan di tengah jalan pada saat hendak diberangkatkan ke Rumah Sakit di Lhokseumawe.
“Kalau saja kondisi jalan itu mulus, tentu saja kejadian itu tidak akan terjadi. Abang boleh lihat sendiri kondisi jalan kecamatan kami sangat amburadul, di badan jalan banyak lubang dan banyak batu sebesar kelapa manusia bertebaran di badan jalan,” ucapnya.
Terkait persoalan itu, Fuad Muchtar, S.Sos,
“Jalan Kecamatan Geureudong Pase dianggarkan dalam program multiyears, tapi sampai sekarang belum juga dibangun. Karena itu jika dalam waktu tiga bulan ke depan, pembangunan jalan ini tidak dilaksanakan, maka saya akan mengundurkan diri dari jabatan camat. Ini saya lakukan karena saya sudah tidak sanggup lagi
Seraya menambahkan, harusnya pembangunan jalan ini menjadi prioritas, karena jalan itu merupakan jalan sentra ekonomi produktif di bidang perkebunan.
Mendengar komentar itu, Ilyas A Hamid, Bupati
“Anggaran proyek ini disediakan pertahun dan batas waktu anggaran yang telah disetujui sampai dengan tahun 2009. Karena itu masyarakat tidak
Pada acara peringatan hari jadi Kecamatan Geureudong Pase diisi dengan acara penanaman 5000 batang pohon yang akan ditanam disepanjang bantaran sungai
Penanaman pohon ini untuk penguatan bantaran sungai. “Dengan adanya, pohon-pohon tersebut, bantaran sungai yang selama ini telah terkikis air tidak akan terjadi lagi dan bantaran sungai akan kuat. Biaya penanaman pohon bersumber dari DAK 2008, dengan jumlah senilai Rp300 juta lebih,” ucap Ir. Arifin Hamid, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Aceh Utara. (***).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar