Minggu, 11 Mei 2008

Derita Lama Bersemi Kembali

Derita Lama Bersemi Kembali

Tanah Kelahiran Bupati Belum Merdeka!

laporan : Taufik

Kehidupan rakyat kecil tak pernah terlepas dari belenggu kemiskinan. Tersisihkan, tertindas dengan berbagai realita problema yang harus dilaluinya, satu-persatu. Rintangan demi rintangan kelak menghatui sederetan langkah mereka setiap harinya.

Tak terlintas sedikitpun tanda-tanda kehidupan disana. Dunia mereka suram, gelap gulita ditelan bumi. Untuk bernafas tak ada ruang! Untuk bergerak tak ada jalan! Rakyat menjerit seraya berkata : “Kami tinggal dalam kotak yang tertutup rapat, tak ada angin tak ada pun cahaya yang menerangi bumi, “ ucap Juanda, Imum Mukim Blang Dalam Kecamatan Nisam, kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Kecamatan Nisam terletak di wilayah bagian tengah Negri Petro Dollar memiliki luas keseluruhan 241,47 km², berjarak sekitar 20 Kilometer dari Kota Lhokseumawe. Terdiri dari 29 gampoeng, dengan jumlah penduduk keseluruhannya 17.686 Jiwa. Umummnya mereka masih berada dibawah garis kemiskinan, bermata pencaharian menjadi petani sawah dan kebun. Tak jarang juga ada yang berprofesi sebagai buruh kasar kuli bangunan, tukang ojek dan lainnya.

Meski memiliki hamparan alam yang luas dan tanah subur, tetapi daerah perbukitan bekas basis kekuatan militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini masih terisolir. Dimana-mana jalan rusak parah tak keruan, hancur-hancuran, berlobang, berlumpur, becek menyerupai kadang kerbau.

Sepanjang 30 Kilometer ruas jalan yang membentang di tanah kelahiran Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, mengkhawatirkan untuk dilalui oleh para pengendara. Masyarakat meronta-ronta, karena hingga saat ini belum merasakan nikmatnya kemerdekaan. Masyarakat pedalaman ini” menjerit”, lalu berkata, “Kami belum merasakan kemenangan”.

Putusnya jalur transportasi, mengakibatkan petani resah memasarkan hasil alam ke Ibukota Kecamatan. Nasib mereka terlunta-lunta, sulitnya mempertahankan hidup mengais sesuap nasi. “Rakyat terus merana dilanda serba kesusahan, terjepit ekonomi! Aktivitas mereka menjadi terhenti! lumpuh total tak berdetak, “ terang Camat Nisam Dahlan, SE.

Rakyat pelosok pedalaman itu terdiri tiga golongan, warga dhuafa, korban konflik, dan eks-mantan kombatan GAM. Deretan kebun pepohonan tanaman pinang, karet, coklat dan persawahan, yang berjejeran rapi, sekedar menjadi pajangan belaka. Pemandangan ini hanya sebagai pelipur lara semata.

Lebih tragis lagi! Belasan ribuan lahan produktif masih dibiarkan terbengkalai tak terurus sama sekali. Lahan tersebut kini menjadi hutan kecil yang sudah ditumbuhi semak-semak belukar bagaikan : “padang ila-lang”. Pemkab Aceh Utara yang memiliki Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) mencapai RP1,5 Trilyun, terbesar dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya di Aceh, menutup mata melihatnasib rakyat jelata.

Belum lagi permasalahan seluas 2.000 Hektare areal lahan persawahan yang dilanda kemarau panjang. Tanaman padi sawah kering-kerontang, dan penyakit gagal panen adalah drama paling menyakitkan. Hal ini akibat tidak adanya saluran yang menghubungkan air yang bersumber dari Krueng Tuan. Sehingga musibah kekeringan terus menjadi momok menakutkan bagi para petani, sejak puluhan-puluhan tahun lalu.

“Kami sangat sengsara! Tak ada sedikipun pernah merasakan kenyamanan, selalu dalam keadaan was-was, karena perut keroncongan lapar. Kebutuhan irigasi muthlak, sebab padi mati layu kekurangan air, “ ucap Nek Lah, 64, seorang petani Tua Desa Blang Karieng.

Lelaki berusia renta ini menuturkan, sebenarnya Anak-anak Nisam yang menganggur bisa menikmati pekerjaan, bila Pemda berkomitmen melakukan pemberdayaan lahan yang terbengkalai.

Salah satunya, yakni ratusan Hektare areal lahan didaerah bekas konflik bersenjata dikawasan Paya Cot Trieng, yang membelah Kecamatan Nisam-Kuta Makmur. Tempat heroik pengepungan para tokoh elit Gerakan Aceh Merdeka (GAM) selama 42 hari pada tahun 2002 lalu itu, sangat layak dijadikan monumen bersejarah, dengan ditanami areal perkebunan dan pertanian sebagai daya tarik alam sekitarnya.

Melihat penderitaan ini, akhirnya Orang Nomor Satu di Aceh Utara, Ilyas A Hamid, pulang ke kampung halamannya. Selama dalam perjalanan matanya risih melihat kondisi tempat dimana dirinya dibesarkan masih tercampakkan terbelenggu dalam mata rantai pagar besi.

Kepalanya geleng-geleng menyaksikan jalur transportasi, sambil mengikuti irama naik-turun jingkrak-jingkrak didalam mobil kebesarannya saat menelusuri perjalanan panjang nan melelahkan. Nyaris tak tampak sedikitpun badan jalan yang rata, karena dimana-mana hanya tampak jalan berlubang yang menganga besar. Dia, pun sempoyongan begitu mengikuti perjalanan pulang tempat Ilyas kecil bermain bersama teman sebayanya.

Berbagai pengaduan yang dilontarkan warga! Disambutnya dalam pangkuan tugas yang harus di embannya dengan arif dan bijaksana. Kekecewaa amarahnya terhadap masyarakat Nisam yang terlibat konstraktor pembangunan jalan, begitu tinggi memuncak. Dia berkata, konstraktor selalu hanya bisa beralasan gagal tender, seperti laporan yang diterimanya dari Camat.

Kebrobrokan konstraktor dengan keteledorannya akan ditindak, Bupati juga berjanji akan mengeluarkan Surat Keputusan dari titahnya langsung, yang intinya, “kalau ada kesalahan yang diperbuat konstraktor segala sesuatunya akan diadili sesuai kehendak dan keinginan rakyat, “ tegasnya.

Menyangkut kekeringan akan ditempuh upaya memanfaatkan air Sungai-sungai besar yang nantinya berfungsi mengairi ke sawah yang bersumber dari Krueng Tuan. Sedangkan persoalan rawa Cot Trieng masih harus dipertimbangkan dari hasil survey kelayakan.

“Segala sesuatunya akan Saya tampung dan ditempuh solusinya pada tahun anggaran 2008. Rakyat Ku bersabarlah..., Lon komit ngoen droen neuh mandum, lon troh keunoe lon saweu awak droen man mandum (Saya komit dengan kalian semua, saya sampai kemari untuk melihat kampung) mudah-mudahan tahun 2008-2009 tercapai sesuai kehendak rakyat Ku, “ tukas Bupati.

Peliknya derita yang dialami Ilyas Kecil hingga saat ini, masih dirasakan yang lainnya. Sepenggal kisah dimasa lampau teriwayat kembali! Terceritakan dan tergambarkan sampai sekarang.

Tidak ada komentar: