Kami Butuh Dokter Yang Mau Tinggal Bersama Kami
Laporan : Taufik
“Akhirnya sampai juga” kata Armiadi,26, salah seorang wartawan dari salah satu harian lokal Aceh. Tempat tujuan yang dimaksud Armia, begitu teman-teman sering memanggilnya, adalah sebuah kecamatan termuda di Kabupaten Aceh Utara. Geureudong Pase nama kecamatan dimaksud.
Letak kecamatan tersebut lebih kurang 32 kilometer arah timur Kota Lhokseumawe. Menuju ke sana , kita harus melewati jalan penuh lubang dan tanjakan, sepanjang 14 km. Di kiri kanan jalan penuh semak belukar. Di kiri kan an jalan juga terdapat drainase (parit jalan-red) yang tampa knya tidak lagi berfungsi, karena pantauan Wartawan beberapa waktu lalu, parit jalan itu telah dipenuhi batu, mulai dari kerikil hingga batu seukuran buah kelapa.
Selain itu, drainase dimaksud juga telah ditutupi rumput liar. Kondisi itu membuktikan parit jalan tersebut sudah tidak berfungsi lagi. “Aduh…sakit,”teriak Armia, ketika mobil yang kami tumpangi melindas salah satu lubang yang memiliki uk uran satu kali satu meter. “Maaf pak tidak sengaja. Bapak lihat sendirikan, saya kepayahan tuk nyetir di jalan ini, di mana-mana penuh lubang,”kata sopir spontanitas.
Pada pukul 12:00 siang, kami sampai di tempat tujuan, yakni di pusat kota Kecamatan Geureudong Pase. “Lapar ni…cari makan yuk,”ajak Armia, sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Penulis pikir, wajar saja itu terjadi, karena hampir tiga jam, kami diguncang di atas jalan berbatu dan berlubang. Biasanya, kami (wartawan-red) baru makan siang pukul 13:00 itu paling cepat, paling lambat pukul 15:00, mungkin karena kami sering liputan lapangan.
Kota kecamatan itu tidak luas, hanya terdapat beberapa pintu toko saja. Di sebelah kiri jalan tiga toko dan di sebelah kan an jalan ada lima pintu toko. Para pemilik toko rata-rata menjual barang kelontong untuk kebutuhan hari-hari penduduk setempat. Kecamatan Geureudong Pase memiliki jumlah penduduk sebanyak 7000 jiwa dengan jumlah 12 desa. Daerah itu kaya dengan hasil alamnya, mulai dari batu dan pasir serta berbagai hasil perkebunan.
Kebetulah di sana ada warung makan untuk masyarakat petani kebun. Segera saja kami mampir di sana . Masakan di warung itu betul-betul nikmat, pasalnya, di sana ada sayur batang pisang, nikmatnya gak ketulungan, sampai-sampai saya harus nampa h dua kali, luar biasakan pembaca.
Selesai makan, kami sempat terlibat pembicaraan serius dengan beberapa penduduk setempat. Katanya, hingga sekarang ini di kecamatan mereka itu belum ada dokter yang benar-benar mau tinggal bersama mereka. Padahal, sebut mereka lagi, pemerintah telah menyediakan segala fasilitas hidup untuk dokter di lingkungan Pukesmas itu juga.
“Dokter yang bertugas di sini jarang masuk. Jika pun masuk, dia tidak tinggal bersama kami, setiap sore dia pulang. Bukan hanya dokter yang tidak mau tinggal bersama kami, para perawat dan bidan desa juga, setiap sore mereka semua pulang dan tak jarang mereka pulang sebelum jam 12:00,”kata kak Ros,35, warga Keude Mb ang, kecamatan setempat.
Kak Yus,30, salah seorang ibu rumah tangga lainnya menimpali pembicaraan kami. “Bapak tau gak…dulu ada saudara kami dengan terpaksa harus melahirkan bayinya di mobil, karena di kecamatan ini tidak dokter dan bidan desa yang mau tinggal bersama kami. Sedih rasanya pak, belum lagi kondisi jalan rusak parah. Rencananya, saudara kami itu, mau dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Mutia, yang jaraknya mencapai 32 kilometer dari sini,”jelas kak Yus dengan nada serius.
Atas cerita beberapa warga, penulis dan Armia sepakat untuk menjumpai Camat kecamatan setempat, yang kebetulan kan tornya tidak jauh dari tempat kami makan siang. Sampai di sana , Fuad Muhtar, S.Sos, (foto) Camat kecamatan itu mempersilahkan masuk ke ruang kerjanya. Di situlah dia menjelaskan duduk persoalannya, dan dia juga membenarkan apa saja yang disampaikan oleh ibu-ibu rumah tangga yang sempat kami temui.
“Kita sudah sering menyurati Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, agar dia dapat menyediakan seorang dokter yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Tapi nampa knya, surat kami itu tidak digubrisnya. Buktinya, sampai sekaran ini, mereka belum menempatkan dokter seperti yang inginkan masyarakat,”jelas Fuad Muhtar dengan sabar.
Dokter yang ditempatkan di daerah itu dulunya seorang perempuan, karena hamil dia tidak bisa masuk kerja hingga beberapa bulan lamanya. Karena sudah kita surat i akhir dokter itu diganti dengan seorang dokter perempuan lagi dan akhirnya dia pun hamil, lagi-lagi dokter tidak bisa masuk kerja. “Yang pasti sampai detik ini, permintaan kita belum dipenuhi oleh Kadis Kesehatan,”tuturnya sambil menambahkan, percuma pemerintah menyediakan ploting anggaran dalam jumlah besar setiap tahunnya, kalau persoalan kecil saja tak sanggup diurus.”
Alfian, Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) menanggapi persoalan itu mengatakan, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara harus dengan segera membuat Standar Pelayan Maksimal (SPM), dengan adanya SPM masyarakat akan mudah nantinya mengkomplain setiap penyimpangan yang dilakukan pihak kesehatan kepada diri mereka. Jika hal ini dibiarkan terus, persoalan kesehatan di Aceh Ut ara tidak akan pernah tuntas.
“Hanya Aceh Utara yang belum membuat SPM, sementara di kabupaten/kota lain sudah lama memberlakukannya,” ujar Alfian.
Drg. Hadi Kusumah, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara yang berhasil dihubungi Waspada via telepon mengatakan, dirinya belum begitu paham dengan kondisi masyarakat di sejumlah kecamatan yang ada, pasalnya, dia baru saja menduduki jabatan itu. Karenanya dia meminta waktu untuk mempelajarinya dan dia juga berjanji akan menempatkan seorang dokter yang bersedia tinggal bersama dengan masyarakat Kecamatan Geureudong Pase.
Dengan cara mengajukan permohonan itu kepada bupati agar dapat mengeluarkan SK nya untuk seorang dokter laki-laki, sehingga nantinya dia dapat mengabdikan hidupnya kepada masyarakat di sana . . “Permohonannya sudah kita ajukan ke bupati, selanjutya kita tunggu arahan beliau. Mengenai ketidak displinan para pegawai, perawat dan bidan desa, itu nantinya, kami akan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke daerah itu dan jika kedapatan akan kita tindak dengan keras,” katanya.
Dia juga mengakui kalau pihaknya sudah beberapa kali menerima surat pemberitahuan dari camat setempat mengenai hal tersebut.(***)