Kamis, 12 Juni 2008

Bom

Tiga Ton Bom Diledakkan


Laporan : Taufik


PAYA BAKONG, Aceh Utara : Empat unit bom rakitan sisa konflik yang ditanam di pinggir jalan Desa Alue Bai, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, berhasil diledakkan (disposal) oleh 13 personel Tim Jibom Brimob Kompi 04 Jelikat, Kamis (12/6), sekitar pukul 10.10.


AKP Ian Rizkian, Komandan Kompi 04 Brimob Jelikat kepada wartawan mengatakan, dari empat unit bom rakitan itu, hanya dua unit yang diledakkan, sementara dua unit lainnya tidak dimungkinkan untuk dilakukan disposal, karena lokasinya terlalu dekat dengan permukiman warga. Karena itu, ke dua unit bom tersebut ditanam dan dibubuhkan bahan kimia.


“Dua unit kita ledakkan, sementara dua unit lagi kita tanam dan kita kasih bahan kimia. Dengan begitu bom itu nantinya akan musnah,” jelas AKP Ian Rizkian, didampingi Ipda. Usman, Wadanki 04 Brimob Jelikat.


Kata dia, ke empat unit bom tersebut memiliki berat mencapai tiga ton lebih, dengan daya ledak rendah (low explosive), radius 100 meter. Begitu pun, kata Ian, kepada masyarakat diharapkan untuk tidak mengusik benda tersebut, karena tidak tertutup kemungkinan akan beresiko tinggi (mematikan). “Kepada masyarakat, kita berharap, jika menemukan benda aneh seperti itu jangan dimain-mainkan, karena jika meledak resikonya mematikan,” pinta Ian.


Seraya menambahkan, “Baiknya, bagi masyarakat yang kebetulan menemukan bom rakitan, untuk segera melaporkan kepada pihak keamanan terdekat, seperti Polsek dan Koramil. Dengan begitu, kita akan turun ke lapangan untuk melakukan disposal.”

Menjawab wartawan, Ian Rizkian mengatakan, bom rakitan sisa konflik masih banyak bertebarang di Kabupaten Aceh Utara. Karena itu, masyarakat diharapkan harus hati-hati.


Sebelumnya, Selasa (22/4), sekitar pukul 22.00, salah satu bom rakitan serupa di Desa Alue Bai, Paya Bakong telah memakan korban enam warga desa itu. Meskipun tidak memakan korban jiwa, namun ke enam warga tersebut mengalami luka serius.


Kejadian itu berawal, ketika enam orang warga Desa Lueng yang berprofesi sebagai pencari besi tua hendak mengambil sejumlah besi yang tertanam di samping parit jalan Desa Alue Bai berbatasan dengan Desa Tektek, Kecamatan Paya Bakong. Melihat sumber rizki tersebut mereka kompak untuk menggali besi tersebut.


“Kami melihat ada beberapa potong besi menjulang ke badan jalan, karena itu kami sepakat untuk menggali besi tersebut, namun baru beberapa saat melakukan penggalian, benda itu meledak,” kata Muhtar, 27, salah seorang korban ledakan bom tersebut yang terkena dibagian dada.

18 Toko Terbakar

18 Toko Terbakar, Kerugian Capai Rp1,8 M


Taufik


SEUNUDDON, Aceh Utara : Kamis (12/6) sekitar pukul 05.00 pagi, sebanyak 18 Rumah toko (Ruko) dan satu balai pengajian desa, di Desa Ulee Rubeik Timu, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara terbakar. Diperkirakan kerugian mencapai Rp1,8 miliar.

Amir Yusuf, 38, salah seorang warga Desa Ulee Rubeik Timu, yang juga korban dalam peristiwa kebakaran itu, kepada Wartawan, Kamis (12/6) via telepon mengatakan, para korban kebakaran tidak sempat menyelamatkan apa pun dalam peristiwa itu, kecuali baju yang melekat di tubuhnya masing-masing.

Amir mengatakan, rumah pertama yang menjadi korban kebakaran itu yakni milik Ramlah, 65. Menurut kabar, kata Amir, sumber api berasal dari konsleting listrik, yang kemudian menjalar hingga menghanguskan 17 Rumah toko lainnya, ditambah satu unit balai pengajian desa setempat.

Dia juga mengatakan, masyarakat merasa kualahan untuk memadamkan api, karena tidak memiliki sumber air terdekat dari lokasi kejadian. Sementara bantuan pemadam kebakaran yang datang dari Lhokseumawe terlambat, sampai di lokasi kejadian pada pukul 07.00. “Saat mereka datang, api telah berhasil menghanguskan 19 bangunan. Karena itu, kita berharap kepada Pemda Aceh Utara, untuk menyediakan dua unit mobil pemadan untuk wilayah tengah Aceh Utara,” pintanya.

Jumlah kepala keluarga yang menjadi korban dalam peristiwa itu sebanyak 19, masing-masing, Ramlah, 65, Abdullah, 36, Rusli Abdullah, 36,k Ibrahim, 55, H. Salam, 70, M. Yahya, 80, M. Yunus Ishak, 60, Ahmad Ganto, 60, H. Abdullah, 65, Amir Yusuf, 38 (dua toko), M. Yasin, 85.

Selanjutnya, Raimah Abu Bakar, 75, (dua toko), Mahmud, 65, Ahmad Puteh, 45, Nurmala, 55, dan Adi Deh, 40, di tambah satu unit balai pengajian. “Untuk malam ini, masyarakat musibah akan menginap di beberapa rumah bantuan NGO yang belum selesai dibangun, dan sampai sekarang ini, masyarakat terus saja menangis, karena banyak harta yang telah menjadi korban dalam peristiwa tersebut. jumlah Ruko yang tersisa sebanyak 30 unit,” ucap Amir.

Drs. M. Jamil, Camat Seunuddon, saat dikonfirmasi Wartawan, Kamis (12/6) via telepon membenarkan, di Desa Ulee Rubeik telah terjadi peristiwa kebakaran dan menghanguskan 19 unit bangunan dengan kerugian mencapai miliaran rupiah. Begitupun dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa.

“Karena itu, kita dari pemerintah kecamatan sedang mempersiapkan ADM untuk menyediakan beberapa keperluan masyarakat korban kebakaran seperti mempersiapkan dapur umum dan beberapa jenis makanan. Peristiwa ini telah kita laporkan ke Pemerintah daerah Aceh Utara,” ucapnya.


Mobil Pengusaha Kilang Padi Dibobol Maling, Rp37 Juta Ludes

Taufik

LHOKSEUMAWE : Mobil jenis Taruna BK 1187 GP, milik H. Hasanuddin, pengusaha kilang padi dari Desa Rayeuk, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara dibobol maling. Uang tunai senilai Rp37 juta ludes dibawa kabur, Kamis (12/6).

Informasi yang berhasil dihimpun Wartawan, Kamis (12/6), H. Hasanuddin, waktu itu, baru saja selesai melakukan penarikan uang senilai Rp27 juta di Bank Nasional Indonesia (BNI) Cabang Lhokseumawe. Selanjutnya, uang sebanyak itu digabungkan dengan uang yang dibawa dari rumah senilai Rp10 juta. Kemudian uang sebanyak Rp37 juta itu dimasukkan dalam kantong plastik dan ditempatkan di atas jok depan mobil.

“Waktu itu, mobil saya parkir di Simpang Lestari. Kemudian saya masuk ke salah satu warung kopi. Sekitar 15 menit, saya kembali ke mobil, tapi saya terkejut, alarm mobil saya tidak bunyi lagi. Merasa ada yang aneh, saya buru-buru memeriksa mobil, ternyata uang senilai Rp37 juta tadi telah hilang,” cerita H. Hasanuddin, di Mapolres Kota Lhokseumawe, usai membuat laporan pengaduan kasus kemalingan tersebut.

Sementara itu, Surian Bahri, 28, tukang parkir di kawasan Simpang Lestari, kota Lhokseumawe, saat ditemui terpisah mengaku melihat sebuah mobil Escudo warna hitam merapat di sisi mobil Taruna BK 1187 GP, beberapa menit setelah pemilik mobil Taruna itu turun dari kendaraannya. “Selain mobil Escudo, ada sepeda motor Satria yang diboncengi oleh dua pria. Dua pria itu sempat meminta uang tukar pecahan seribuan pada saya,” kata Surian.

Surian juga menjelaskan ciri-ciri dua pria yang menggunakan sepeda motor Satria itu yakni memakai kaos ketat, jaket warna hitam, rambut cepak, badan tegab, dan berbicara dengan bahasa Indonesia cepat. “Setelah merapat ke mobil Taruna, ke dua pria tadi berangkat,” ucapnya.

Sebelumnya, H. Hasanuddin, mengaku dirinya ada yang membututi saat melakukan penarikan uang di BNI, “Saya sempat melihat satu unit mobil Escudo warna hitam parkir dengan kondisi mesin hidup, tapi waktu itu saya tidak menaruh curiga,” ucapnya.

Kata Hasanuddin, uang sebanyak Rp27 juta yang ditarik dari BNI itu, merupakan uang untuk membayar beras jatah rakyat miskin pada perum Bulog. Dia merupakan kepercayaan camat Meurah Mulia, sebagai penyalur Raskin di kecamatan tersebut. “Mungkin saya dipercaya karena memiliki kilang padi,” ujarnya.

AKBP Zulkifli, Kapolres Kota Lhoskeumawe, didampingi Kasat Reskrim AKP Ricky Purnama Kertapati, S.Ik, mengatakan, pihaknya sedang memburu pelaku pembobol mobil milik Hasanuddin. “Kita sudah meminta keterangan korban dan saksi mata. Diperkirakan pelaku pembobol mobil sekitar empat orang. Ciri-cirinya sudah terindikasi, kemungkinan ‘pemain lama,” jelas Ricky.

Selasa, 10 Juni 2008

PSK Di Negeri Bersyari’at

PSK Di Negeri Bersyari’at


Laporan: Taufik


Kata orang bijak “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali jatuh juga”. Begitu realitas yang terjadi pada sejumlah perempuan Pekerja Sek Komersial (PSK) di Kota Lhokseumawe.


Sejak hukum Islam mulai diterapkan di Aceh, para pekerja sek yang beseliweran di Bumi Tanah Rencong mulai kehilangan omset, dan bahkan mereka harus hengkang dari Bumi Serambi Mekah, karena tidak bisa ‘menjajakan daganggannya’ secara bebas. Namun, setelah beberapa tahun hilang, kini PSK ‘siluman’ kembali bermunculan dibeberapa kota di Aceh, salah satunya di Kota Lhokseumawe.


Hal ini terbukti, dari beberapa kasus khalwat yang terjadi sepanjang tahun 2008. karena tidak bisa bebas, para pelaku sek, melakukan perbuatan terlarang agama Islam itu dengan berbagai cara, yakni membawa pasangan ke rumah, indehoi di mobil dan di berbagai tempat lainnya, dengan cara sembunyi-sembunyi.


Hasil investigasi yang dilakukan oleh beberapa polisi Wilayatul Hisbah (WH) Kota Petro Dolar itu membuktikan, wanita yang menjual tubuhnya di Lhokseumawe kian banyak dan terus berkembang biak. Banyak diantara para PSK itu masih bau kencur dan umumnya mereka masih belajar di bangku sekolah dan mahasiswa.


Ridwan Jalil, Kepala Kantor Satpol PP dan WH Kota Lhokseumawe kepada Wartawan beberapa waktu lalu mengatakan, ada beberapa lokasi yang rawan terjadinya perbuatan khalwat di Lhokseumawe yakni; Kecamatan Muara Dua, Seputaran Cunda, Rancong, Panggoi dan dibeberapa kawasan lainnya di Kecamatan Muara satu.


“Ada juga pelaku khalwat bergaya bagaikan penyewa rumah. Di sana mereka bebas berhubungan intim bagaikan sepasang suami isteri yang sah. Begitupun, berkat adanya kerjasama masyarakat dengan pihak kita, para pelaku khawat tertangkap juga,” kata Ridwan Jalil.


Dan sekarang ini, pihaknya sedang mengincar salah satu rumah yang tidak disebutkan alamatnya, diduga selama ini digunakan sebagai tempat melampiaskan nafsu syahwat para lelaki hidung belang.


“Saya sudah menerima informasi akurat tentang keberadaan mereka, karena WH juga memiliki intel yang disebarkan di titik yang dicurigai adanya penyakit sosial ini. Para PSK semuanya itu akan kita tangkap dan rumah hunian mereka juga akan kami obrak-obrik, demi tercapainya hukum Syari’at secara kaffah.


Karena teknologi informasi (TI) semakin canggih, para pekerja sesualpun tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk modal dagangannya, cukup dengan satu Short Message Service (SMS), yang dikirimkan lewat handphone. “Nyan mandum tergantung bak kemampuan olah (itu semua sangat bergantung pada kemapuan olah).


Beberapa PSK yang berhasil diwawancara Wartawan, mengaku, perbuatan itu dilakukan karena tuntutan ekonomi. “Ini terpaksa kami lakukan, akibat desakan ekonomi. Padahal kami tau, ini tidak bisa kami lakukan di sini, di Negeri yang bersyari’at Islam ini.”


Mampukah para Polisi Wilayatul Hisbah (WH) Kota Lhokseumawe dan Aceh mebendung berkembangnya para pekerja sek komersial (PSK) di Bumi yang bersyari’at ini.


34 Siswa सम्प Keracunan


34 Siswa SMP Simpang Kramat Keracunan Makanan

Tiga Orang Diamankan Polisi

Laporan : Taufik

SIMPANG KRAMAT, Aceh Utara : Selasa, (10/6) sekira pukul 10.30 siang, 34 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1, Kecamatan Simpang Kramat, Aceh Utara, diduga keracunan makanan. Ke 34 siswa tersebut telah dievakuasi ke RSUD Cut Mutia Lhokseumawe, hingga berita ini diturunkan tidak ada korban jiwa.

Eliati, Guru Bidang Studi Bahasa Inggris di SMP N I Simpang Kramat, saat dikonfirmasi Wartawan, Selasa (10/6) mengatakan, pada jam istirahat sekitar pukul 10.30, ada beberapa siswa yang melapor ke piket sekolah, kalau mereka sakit perut dan pusing, setelah mengkonsumsi jajanan Somay yang dijual di pekarangan sekolah.

“Karena sakit, kita mengizinkan mereka untuk beristirahat sebentar, tapi tidak berapa lama kemudian, datang seorang siswa melaporkan, ada puluhan siswa sedang muntah-muntah di perkarangan sekolah. Dan setelah kita cek, ternyata benar, karena itu kita langsung mengantisipasi kejadian tersebut, dengan cara membawa mereka ke RSUD Cut Mutia,” jelas Eliati yang berhasil ditemui Wartawan di Rumah Sakit setempat.

21 dari 34 siswa yang mengalami keracunan makanan itu yakni Nurfadilah, Jamiati, Ikhwana, Sriwahyuni, Eliani, Musrsadilah, Musliana, Mauliana, Cut Mustaniza, Rahmawati, Rahmita, Fakriah, Nurul Afni, Afridawati, Muslim, Saifullah, dan M. Sadikin, Nursidah, Eni Sahara, Nurlela, dan Murdani. Sementara 13 siswa lainnya, hanya mengalami pusing.

Melihat siswa yang sakit cukup banyak, tambah Eliati, pihaknya langsung mencari mobil ambulance dari Puskesmas kecamatan itu, ditambah beberapa mobil angkutan pedesaan. “Kami tidak tahu, apakah mereka itu keracunan atau tidak. Tapi yang pasti, para siswa sakit setelah mengkonsumsi jajanan Somay, yang dijual diperkarangan sekolah. Menurut keterangan beberapa siswa, jajanan Somay itu sudah setiap hari mereka makan, tapi tidak apa-apa, hari ini entah kenapa,” ucap Eliati.

Penjelasan sama juga disampaikan Drs. M. Jamil, M.Kes, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Aceh Utara. “Informasi yang kita terima dari kepala sekolah, para siswa sakit setelah makan Somay. Apakah mereka keracunan atau tidak, itu baru kita ketahui setelah ada hasil lababoratorium. Ke semua siswa yang sakit telah kita bawa ke RS untuk mendapatkan perawatan medis. Alhadulillah, tidak ada korban jiwa,” terang M. Jamil.

Sampai di RSUD Cut Mutia, para siswa langsung diberikan pertolongan pertama. Mereka semua dibaringkan di ranjang tidur di ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Karena terlalu banyak mengeluarkan cairan, para siswa yang muntah-muntah diberikan tambahan cairan infuse dan fitamin.

Dr. Hamdani Oesman, Kepala Rumah Saki Umum Daerah (RSUD) Cut Mutia Lhokseumawe kepada Wartawan, Selasa (10/6) mengatakan, informasi yang diterima pihaknya, kemungkinan besar, para siswa SMP N I Simpang Kramat menderita keracunan makanan, karena rasa sakit itu timbul setelah memakan jajanan Somay di sekolah. Ciri-ciri orang mabuk sebut Hamdani, kepala terasa pusing dan perut mual dan muntah-muntah.

Begitupun, tambah Hamdani, kejadian itu tidak sampai merenggut korban jiwa. Dan diperkirakan, setelah mendapatkan tambahan cairan, para siswa sembuh dari rasa sakit. “jarang sekali, kejadian yang seperti ini berakibat fatal. Mudah-mudahan, setelah mendapatkan tambahan cairan, para siswa pulih kembali,” ucapnya.

Ilyas A Hamid, Bupati Aceh Utara melalui Kabag Humas Azhari Hasan, SH, mengatakan, pihaknya telah melakukan antisipasi terhadap korban dugaan keracunan makanan dengan cara membawa mereka ke RS. Terkait dugaan keracunanan makanan, pihaknya sedang menunggu hasil laboratorium dari Banda Aceh. “Kita tidak bisa memfonis, kalau para siswa sakit akibat keracunan makanan. Untuk itu, kita harus tunggu halsil pemeriksaan lab dari Banda Aceh,” ujarnya.

Tiga Orang Diamankan Polisi

Sementara itu, AKBP Zulkifli, Kapolres Kota Lhokseumawe melalui Kasat Reskrim AKP Ricky Purnama Kertapati, S.Ik, mengatakan, hasil investigasi yang dilakukan pihaknya terhadap pedagang Somay, Ibrahim M Adam, 43, warga Desa Lhok Mon Puteh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe yaitu, di dalam gerobak Somay ditemukan botol saus cabai bermerek Dena. Setelah diselidiki, ternyata saus tersebut sudah kadaluarsa.

Menjawab polisi, Ibrahim mengaku, saus cabai itu dibeli di salah satu toko di Keude Cunda, Muara Dua. Karena itu, polisi meminta Ibrahim untuk mengantarkan pihaknya ke toko dimaksud, sampai di Keude Cunda, pedagang Somay langsung membawa polisi masuk ke toko Brico Jaya. Setelah digeledah, di dalam toko itu, polisi berhasil menemukan 21 botol saus kadaluarsa dengan merek yang sama. “Masa berlaku saus yang ditemukan berfariasi yakni tahun 1993, 1997, 2005 dan 2007,” ucap Ricky.

Karena itu, untuk penyelidikan lebih lanjut, H. Yusuf, 45, bersama anaknya Safrizal, 30, (pemilik toko) dan penjual Somay, telah diamankan Polisi di Mapolres Kota Lhokseumawe. (***).

Rabu, 04 Juni 2008

Wali Murid Tempuh Jalur Hukum

Tidak Terima Anak Dianiaya Kepala Sekolah

*Wali Murid Tempuh Jalur Hukum


Laporan : Taufik


Jambo Aye Aceh Utara:
Kepala Sekolah SDN 7 Jambo Aye, H.Rajali.Sag.MM, beserta wakil, M.Nur Basyah dituduh telah melakukan penganiayaan terhadap anak didiknya, Siti Fatimah Jahara, 11, siswi kelas lima di SD tersebut, yang bertempat tinggal di Desa Rawa Itek, Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Lukman, 36, orang tua Jahara, Selasa (3/6) kepada wartawan, mengatakan,” pada hari Senin (2/6) saya dijemput oleh dewan guru ke rumah dan saya disuruh menghadap kepala sekolah. Ketika sampai di sekolah, Pak Rajali mengancam akan mengeluarkan anak saya dari sekolah karena telah mengambil bunga milik sekolah yang kemudian dibawa pulang kerumah tampa izin.”

“Saya tidak terima atas perlakuan Pak Rajali, bukan karena anak saya mau dikeluarkan tapi karena anak saya dianiaya terlebih dahulu. Jahara mengalami memar di pipi kiri-kanan dan tengkuk leher bagian belakang, saya sakit hati, inikan masalah sepele, karena tidak dibicarkan secara baik-baik. Saya sudah melapor kejadian ini kepada komite sekolah dan UPTD Jambo Aye, dan saya akan melaporkan kepada pihak berwajib. Demi anak, saya akan menempuh jalur hukum.” Tegas Lukman.

Saat ini, anak saya sudah dibawa oleh ibunya ke Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe, untuk pemeriksaan lebih lanjut atas bekas pemukulan yang diterimanya dari kepala sekolah dan wakilnya.

Kejadian yang sama juga menimpa murid lain, Hardi Julian Saputra, 11, siswa kelas lima, tinggal di Desa Rawa Itek, Dusun Damai, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Hamdani, 45, orang tua korban membenarkan kejadian tersebut, “anak saya pernah ditampar dua kali oleh wakil kepala sekolah atas kesalahan yang sama, mengambil bunga sekolah”.

“ kejadian tersebut terjadi secara serentak, yang jelas saat jam pelajaran, anak saya pulang kerumah dan diantar oleh guru yang hanya menunggu dilorong jalan untuk mengambil bunga yang dibawa pulang dari sekolah oleh anak saya. Saat itu, istri saya yang baru pulang belanja berpaspasan dengan guru tersebut. Istri saya bertanya, ada masalah apa ? ” Besar sekali masalah anak ibu di sekolah”, jawab guru itu yang langsung membonceng anak saya pergi kesekolah. Kemudian istri saya menyusul guru itu ke sekolah dengan berjalan kaki dengan jarak sekitar 250 meter dari rumah saya. Sampai di sekolah, istri saya bertanya kepada pihak sekolah, pihak sekolah menjawab, “anak ibu telah mencuri bunga dari sekolah dan itu dilakukan bukan sekali tapi sudah berulang kali”. Ujar Hamdani menceritakan yang sebenarnya.

Hamdani juga menambahkan, seluruh warga yang mengetahui kejadian itu, berang dan meminta agar kepala sekolah SDN 7 Jambo Aye beserta wakil segera di pindahkan dari sekolah dan diganti dengan kepala sekolah yang baru, imbuhnya.

Sementara Kepala Sekolah SDN 7 Jambo Aye, H.Rajali.Sag.MM, saat dikonfirmasi secara terpisah melalui via telpon, mengatakan, “ saya tidak pernah memukul anak didik saya, itu semua hanya rekayasa pihak wali murid, karena mereka tidak senang terhadap, M.Nur Basyah yang juga warga Desa Rawa Itek, itu semua hanya politik desa dan tidak perlu disangkut pautkan dengan lingkungan sekolah”.

Memang, Jahara dan Hardi telah mencuri bunga milik sekolah, tapi saya tidak pernah memukul mereka. Saya hanya memberi peringatan, itu saja tidak lebih, tandas Rajali membantah tudingan orang tua korban.***

Kajari

Kajari Lhoksukon Tampung Aspirasi Mahasiswa

Laporan : Taufik

LHOKSUKON, Aceh Utara : Efendi K, SH, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Lhoksukon, Aceh Utara, tampung aspirasi para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM se-Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, Rabu (4/6).

Kata Efendi, para mahasiswa datang ke ruang kerjanya untuk menyampaikan beberapa persoalan. Pertama, para mahasiswa melaporkan persoalan penjualan tanah aset Pemerintah Aceh Utara untuk para anggota dewan kabupaten itu, ke dua, para mahasiswa meminta proses hukum terkait penyertaan modal pada PT. Peutari Tani senilai Rp7,2 miliar.

Ke tiga, melaporkan persoalan uang tunjangan sewa rumah senilai Rp9,2 juta per bulan untuk ketua dan wakil ketua DPRK dan Rp7,2 juta untuk anggota dewan, dan ke empat terkait persoalan pengadaan 17 unit mobil Avanza dengan anggaran senilai Rp3,8 miliar.

”Kita tampung aspirasi adik-adik mahasiswa. Untuk memproses itu semua, kita harus mempelajari dulu,” kata Efendi K, SH. ”Adik-adik mahasiswa datang ke tempat kita sekitar pukul 12.00 dan selesai sekitar pukul 12.30. Kita akan mengakomodir setiap aspirasi mahasiswa.”

Menjawab Wartawan, semua laporan yang telah diterima pihaknya merupakan skala prioritas, tak terkecuali laporan yang telah disampaikan para mahasiswa, kata Efendi ketika dihubungi Wartawan, Rabu (4/6) via telepon.

Koordinator Umum Aliansi BEM Mahasiswa se-Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe kepada Wartawan, Rabu (4/6) melalui siaran persnya mengatakan, pihaknya telah melaporkan beberapa persoalan kepada Kajari Lhoksukon dan kata dia, Kajari telah menampung dan akan mempelajari semua persoalan yang telah disebutkan di atas dan semua persoalan tersebut telah menjadi skala prioritas.

”Semua hal tersebut kita laporkan ke Kajari, karena semua yang dilakukan para anggota dewan di Aceh Utara telah melanggar tatatertib dan aturan yang ada, seperti penyertaan modal pada PT. Peutari Tani. Ini sama sekali belum ada qanun, begitu juga dengan beberapa hal lainnya,” sebut Habibillah yang didampingi Idris, Mantan BEM UNIMAL.

Dia juga mengatakan, Aliansi BEM Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, meminta kepada Kajari Lhoksukon untuk mempublikasikan setiap perkembangan dalam penyelidikan kasus tersebut, agar semua permasalahan ini dapat diakses oleh publik.

”Kami juga meminta dukungan dari akademisi, LSM, dan Masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap proses penanganan yang dilakukan oleh Kajari Lhoksukon demi terciptanya pemerintahan yang bersih. Ini sudah disepakati bersama dalam pertemuan tersebut antara pihak Aliansi BEM Se-Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe dengan pihak kajari Lhoksuko,” demikian Habibillah.