Minggu, 11 Mei 2008

Cinta Sunyi di Tengah Konflik

Cinta Sunyi di Tengah Konflik

Laporan : Taufik

KEBENARAN adalah korban pertama dari sebuah peperangan. Begitu adagium yang sering kita dengar. Pengalaman kita hidup di Aceh, cinta juga menjadi korban dari dari sebuah peperangan. Baik cinta dalam pengertian luas, maupun cinta dalam pengertian sempit, yang terjadi secara bersamaan dialami Inun dan Yanti dalam novel Cinta Maha Sunyi karya Arafat Nur.

Demikian kata Ayi Jufridar, yang bertindak sebagai pembedah tunggal novel karya wartawan itu bertempat di secretariat Center For Media And Cros-Cultural (CMCS) atau Puat Kajian dan Lintas Budaya, diikuti puluhan peminat sastra yang berasal dari berbagai organisasi seni maupun perorangan.

Dalam situasi konflik, terkadang manusia harus memilih satu atau lebih buruk lagi kehilangan kedua-duanya. Konflik bersenjata seringkali membatasi pilihan. Seperti pilihan Inun yang selalu gamang dengan perasaannya terhadap Yanti. Pemuda itu selalu kikuk ketika Yanti bermanja-manja dengannya.

Yanti mengira Inun adalah kakak kandungnya yang sudah lama merantau ke Malaysia. Ungkapan cinta justru meluncur lebih dulu dari mulut Yanti, ketika mereka terjebak dalam baku tembak antara aparat keamanan dengan gerilyawan GAM. Inun mengakui bahwa ia pun mencintai Yanti. Entah cinta yang sesungguhnya, atau akibat dorongan situasi.

Jelas Ayi tentang novel yang berlatarkan situasi perang dengan setting sebuah desa peladalam di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur, di mana penulisnya pernah tinggal sembilan tahun lebih hidup berbaur besama suku pendatang yang membuka lading dan perkebunan.

Orang seringkali keliru mengindentifikasi perasaannya dalam situasi terdesak, seperti terjebak dalam kontak senjata yang dialami Inun dan Yanti. Entah mengapa Inun tidak menyatakan cintanya ketika perang belum berkecamuk. “Sastra memang sangat peka terhadap tragedi, dan konflik Aceh adalah sebuah tragedi. Cinta Mahasunyi mengungkap konflik itu dalam garis besar dan tidak merumitkan masalah,” ucap Ayi.

Sedangkan penulisnya, Arafat Nur berkomentar, lahirnya novel itu dilatari oleh tekanan batinnya yang tidak tahan melihat kekerasan. “Penindasan seringkali terjadi di tempat kita. Banyak alasan orang membenarkan penindasan terhadap orang lain. Pada dasarnya penindasan itu dilakukan atas ketidak-puasan seseorang, atau untuk mencapai suatu keinginan tententu,” kata Arafat.

Penindasan juga terjadi terhadap petani-petani di pedalaman Aceh Timur yang terekam dalam novel Cinta Mahasunyi. Penindasan itu dilakukan dua kelompok yang berseteru, antara militer dan pejuang, yang bahkan mereka sama-sama mengaku sebagai pelindung rakyat.

Tidak ada alasan apapun bagi petani, dan pendatang-pendatang di sana untuk membela diri, membela diri atas kepentingan hak-hak hidup, dan hak lainnya sebagai manusia yang layak. Katanya, saya merekam betul sebuah situasi yang terjadi dalam sebuah tragedi yang menimpa suku Aceh dan suku Jawa dengan latar belakang yang berbeda.

Ini adalah sebuah dunia yang terperangkap, terjadinya pemaksaan-pemaksaan dan pembunuhan atas nama sebuah ideologi yang tak mau pernah mengerti terhadap hak-hak manusia lainnya. Dan tragedi itu terjadi dengan dungunya, dengan segala kebodohan yang semestinya tak perlu dibesarkan.

Perasaan penulis banyak terlibat dalam novel itu. Terutama setting peristiwa adalah lingkup dunia yang akrab, yang sejak kecil dapat dirasakan Arafat. Sosok Inun yang unik dan misteri, juga Yanti yang lugu, begitu kental dengan pengunungan, yang hijau oleh palawija. “Di sana tersebar kesunyian, yang kadang menjadi semacam keindahan tersendiri,” jelasnya.

Bedah buku itu difasilitasi CMCS yang memberikan motivasi dan mendukung sekelompok atau individu masyarakat yang kreatif berkarya atau memiliki pemikiran-pemikiran yang bisa dikontribusikan kepada publik. Bedah karya sastra itu merupakan yang pertamakali di lembaga itu, dan dipimpin langsung Media Specialist, Irwandar, yang bertindak sebagai moderator

Bukti Sejarah Perjuangan Masyarakat

Bukti Sejarah Perjuangan Masyarakat Lhokseumawe Menentang Penjajah Jepang Tak Terurus

Laporan : Taufik

LHOKSEUMAWE : Sejumlah bukti sejarah perjuangan masyarakat Lhokseumawe tempo dulu dalam menentang penjajah jepang dibiarkan terbengkalai. Selain tiga kurorok (tempat perbunyian) di Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, sejumlah benteng pertahan sepanjang pantai Ujong Blang, Kec. Banda Sakti juga tak terurus.

Pantauan Wartawan, Kurorok sebagai tempat persembunyian dalam tanah di bawah bukit karang sangat mengagumkan. Menurut keterangan pakar sejarah dari Seksi Pariwisata setempat, kendati liang besar di bawah bukit telah dihajar dua kali oleh gempa bumi sangat dasyat di Aceh, namun sedikit pun tidak mengalami keretakan. “Mungkin sengaja dipilih di bukit tanah bercampur karang, sehingga sangat kokoh,” jelas petugas Pariwisata saat berkunjung ke lokasi yang berada di sampaing pabrik pengolahan gas PT.Arun NGL.

Lubang besar setinggi tubuh orang dewasa, menurut dia, dibuat tentara Jepang karena selalu mendapat serangan hebat dari masyarakat Lhokseumawe kala itu. “Sesuai dengan beberapa cerita saksi yang hidup pada saat itu, lubang ini dikerjakan warga setempat karena dipaksa penjajah,” tambah Kasi Pariwisata Kota Lhokseumawe, A.Hadi. Lubang berbentuk oval, menyerupai kaki-lima toko yang di bagian sisinya dipenuhi dengan lubang berbentuk kamar.

Di dalam kamar-kamar kecil ini diperkirakan memiliki berbagai fungsi. Di dalamnya masih tersisa bekas tempat tidur, tempat memasak, bahkan bekas tempat tahanan. Namun akibat sering dimasuki air lewat pintu masuk bagian-bagian berbentuk kamar becek dan berlumpur. “Kalau setiap pintu masuk kita buat penghalang agar air tidak masuk, kondisinya akan bagus,” jelas Kadis Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Lhokseumawe, Zulkifli Yusuf. Di sekitar kurorok itu juga terdapat dua tempat pensembunyian lainnya. Karena berda persisi di sekitar jalan masuk, tempat-tempat itu diduga digunakan untuk para pasukan pengawal.

Untuk melestarikan peninggalan bersejarah peninggalan Jaman Jepang, Pemko Lhokseumawe baru mengalokasikan dana Rp.50 juta melalui APBK TA-2007. Sehingga hanya atap pintu gerbang dari beton dapat direalisasikan. Sementara jalan lintas melalui Makam Pahlawan sepanjang 300 meter ke lokasi baru dibuka pihak NGO. Mereka merencanakan mebangunan rumah sakit tidak jauh dari lokasi itu.

Di atas bukit yang sangat luas ini juga dapat dibangun lokasi pariwisata. Para pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh pantai yang melingkari Kota Lhokseumawe dari atas. Puluhan kapal besar dan ratusan boat nelayan terlihat jelas terapung di laut. Begitu juga dengan tangki raksasa milik PT.Arun LNG tersebar sepanjang pantai. Bila pemerintah berani mengelola lokasi itu, hampir dapat dipastikan akan menjadi asset daerah yang mampu meraup keuntungan besar. Selain itu, warga sekitar yang dapat memanfaatkan keramaian pengunjug dengan menjadi pejajan makanan, demikian Zulkifli

Derita Lama Bersemi Kembali

Derita Lama Bersemi Kembali

Tanah Kelahiran Bupati Belum Merdeka!

laporan : Taufik

Kehidupan rakyat kecil tak pernah terlepas dari belenggu kemiskinan. Tersisihkan, tertindas dengan berbagai realita problema yang harus dilaluinya, satu-persatu. Rintangan demi rintangan kelak menghatui sederetan langkah mereka setiap harinya.

Tak terlintas sedikitpun tanda-tanda kehidupan disana. Dunia mereka suram, gelap gulita ditelan bumi. Untuk bernafas tak ada ruang! Untuk bergerak tak ada jalan! Rakyat menjerit seraya berkata : “Kami tinggal dalam kotak yang tertutup rapat, tak ada angin tak ada pun cahaya yang menerangi bumi, “ ucap Juanda, Imum Mukim Blang Dalam Kecamatan Nisam, kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Kecamatan Nisam terletak di wilayah bagian tengah Negri Petro Dollar memiliki luas keseluruhan 241,47 km², berjarak sekitar 20 Kilometer dari Kota Lhokseumawe. Terdiri dari 29 gampoeng, dengan jumlah penduduk keseluruhannya 17.686 Jiwa. Umummnya mereka masih berada dibawah garis kemiskinan, bermata pencaharian menjadi petani sawah dan kebun. Tak jarang juga ada yang berprofesi sebagai buruh kasar kuli bangunan, tukang ojek dan lainnya.

Meski memiliki hamparan alam yang luas dan tanah subur, tetapi daerah perbukitan bekas basis kekuatan militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini masih terisolir. Dimana-mana jalan rusak parah tak keruan, hancur-hancuran, berlobang, berlumpur, becek menyerupai kadang kerbau.

Sepanjang 30 Kilometer ruas jalan yang membentang di tanah kelahiran Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, mengkhawatirkan untuk dilalui oleh para pengendara. Masyarakat meronta-ronta, karena hingga saat ini belum merasakan nikmatnya kemerdekaan. Masyarakat pedalaman ini” menjerit”, lalu berkata, “Kami belum merasakan kemenangan”.

Putusnya jalur transportasi, mengakibatkan petani resah memasarkan hasil alam ke Ibukota Kecamatan. Nasib mereka terlunta-lunta, sulitnya mempertahankan hidup mengais sesuap nasi. “Rakyat terus merana dilanda serba kesusahan, terjepit ekonomi! Aktivitas mereka menjadi terhenti! lumpuh total tak berdetak, “ terang Camat Nisam Dahlan, SE.

Rakyat pelosok pedalaman itu terdiri tiga golongan, warga dhuafa, korban konflik, dan eks-mantan kombatan GAM. Deretan kebun pepohonan tanaman pinang, karet, coklat dan persawahan, yang berjejeran rapi, sekedar menjadi pajangan belaka. Pemandangan ini hanya sebagai pelipur lara semata.

Lebih tragis lagi! Belasan ribuan lahan produktif masih dibiarkan terbengkalai tak terurus sama sekali. Lahan tersebut kini menjadi hutan kecil yang sudah ditumbuhi semak-semak belukar bagaikan : “padang ila-lang”. Pemkab Aceh Utara yang memiliki Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) mencapai RP1,5 Trilyun, terbesar dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya di Aceh, menutup mata melihatnasib rakyat jelata.

Belum lagi permasalahan seluas 2.000 Hektare areal lahan persawahan yang dilanda kemarau panjang. Tanaman padi sawah kering-kerontang, dan penyakit gagal panen adalah drama paling menyakitkan. Hal ini akibat tidak adanya saluran yang menghubungkan air yang bersumber dari Krueng Tuan. Sehingga musibah kekeringan terus menjadi momok menakutkan bagi para petani, sejak puluhan-puluhan tahun lalu.

“Kami sangat sengsara! Tak ada sedikipun pernah merasakan kenyamanan, selalu dalam keadaan was-was, karena perut keroncongan lapar. Kebutuhan irigasi muthlak, sebab padi mati layu kekurangan air, “ ucap Nek Lah, 64, seorang petani Tua Desa Blang Karieng.

Lelaki berusia renta ini menuturkan, sebenarnya Anak-anak Nisam yang menganggur bisa menikmati pekerjaan, bila Pemda berkomitmen melakukan pemberdayaan lahan yang terbengkalai.

Salah satunya, yakni ratusan Hektare areal lahan didaerah bekas konflik bersenjata dikawasan Paya Cot Trieng, yang membelah Kecamatan Nisam-Kuta Makmur. Tempat heroik pengepungan para tokoh elit Gerakan Aceh Merdeka (GAM) selama 42 hari pada tahun 2002 lalu itu, sangat layak dijadikan monumen bersejarah, dengan ditanami areal perkebunan dan pertanian sebagai daya tarik alam sekitarnya.

Melihat penderitaan ini, akhirnya Orang Nomor Satu di Aceh Utara, Ilyas A Hamid, pulang ke kampung halamannya. Selama dalam perjalanan matanya risih melihat kondisi tempat dimana dirinya dibesarkan masih tercampakkan terbelenggu dalam mata rantai pagar besi.

Kepalanya geleng-geleng menyaksikan jalur transportasi, sambil mengikuti irama naik-turun jingkrak-jingkrak didalam mobil kebesarannya saat menelusuri perjalanan panjang nan melelahkan. Nyaris tak tampak sedikitpun badan jalan yang rata, karena dimana-mana hanya tampak jalan berlubang yang menganga besar. Dia, pun sempoyongan begitu mengikuti perjalanan pulang tempat Ilyas kecil bermain bersama teman sebayanya.

Berbagai pengaduan yang dilontarkan warga! Disambutnya dalam pangkuan tugas yang harus di embannya dengan arif dan bijaksana. Kekecewaa amarahnya terhadap masyarakat Nisam yang terlibat konstraktor pembangunan jalan, begitu tinggi memuncak. Dia berkata, konstraktor selalu hanya bisa beralasan gagal tender, seperti laporan yang diterimanya dari Camat.

Kebrobrokan konstraktor dengan keteledorannya akan ditindak, Bupati juga berjanji akan mengeluarkan Surat Keputusan dari titahnya langsung, yang intinya, “kalau ada kesalahan yang diperbuat konstraktor segala sesuatunya akan diadili sesuai kehendak dan keinginan rakyat, “ tegasnya.

Menyangkut kekeringan akan ditempuh upaya memanfaatkan air Sungai-sungai besar yang nantinya berfungsi mengairi ke sawah yang bersumber dari Krueng Tuan. Sedangkan persoalan rawa Cot Trieng masih harus dipertimbangkan dari hasil survey kelayakan.

“Segala sesuatunya akan Saya tampung dan ditempuh solusinya pada tahun anggaran 2008. Rakyat Ku bersabarlah..., Lon komit ngoen droen neuh mandum, lon troh keunoe lon saweu awak droen man mandum (Saya komit dengan kalian semua, saya sampai kemari untuk melihat kampung) mudah-mudahan tahun 2008-2009 tercapai sesuai kehendak rakyat Ku, “ tukas Bupati.

Peliknya derita yang dialami Ilyas Kecil hingga saat ini, masih dirasakan yang lainnya. Sepenggal kisah dimasa lampau teriwayat kembali! Terceritakan dan tergambarkan sampai sekarang.

Sarana Jalan, Jembatan Dan Irigasi Tuntutan Rakyat Aceh Utara

Sarana Jalan, Jembatan Dan Irigasi Tuntutan Rakyat Aceh Utara 2008

Laporan : Taufik

ACEH UTARA : Dominan, rakyat Kabupaten Aceh Utara, lewat Yang ada di tingkat kecamatan di hampir seluruh kabupaten itu, meminta kepada pemerintah, untuk segera membangun sarana jalan, jembatan dan irigasi. Karena tiga kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan dasar masyarakat pedesaan.

Aidi Habibi, 30, tokoh masyarakat Keude Simpang Jalan, Kabupaten Aceh Utara, mengatakan, masyarakat yang berdomisili di Kecamatan Seunuddon, pada tahun 2008 ini, menuntut Pemerintah Aceh Utara, untuk segera membangun sarana jalan, irigasi dan lapangan kecamatan.

“Sarana irigasi yang ada sekarang ini belum mampu mensuplai air untuk seluruh areal persawahan yang ada. Dan saluran irigasi yang digunakan selama ini terputus sampai di Keude Simpang Jalan. Sehingga, masyarakat petani padi yang berada di Desa paya Dua setiap tahun mengalami kekurangan cadangan air. Panjang saluran tambahan yang dibutuhkan kira-kira tiga kilometer lagi,” jelas Aidi.

Kemudian, hingga kini, masyarakat petani padi yang tinggal di tiga desa yakni; Desa Simpang Empat, Alue Capli dan Desa Cot Patisah, Kecamatan Seunuddon, masih mengandalkan sawah tadah hujan dan hanya mampu bercocok tanam satu kali dalam setahun.

“Kondisi seperti ini, telah dialami oleh para petani di sana selama bertahun-tahun. Sama-sama kita ketahui, dulu Kecamatan Seunuddon pernah menjadi lumbung beras Aceh. Kebutuhan saluran tambahan ini kira-kira empat kilometer. Selanjutnya, saluran irigasi juga dibutuhkan oleh masyarakat Desa Matang Karieng dan Matang Lada,” tambah Aidi Habibi.

Selain itu, sarana jalan untuk pengaspalan yang dimulai dari Desa Matang Jelikat hingga Desa Sagoe. Selanjutnya, jalan dari Desa Keude Simpang Jalan hingga Kecamatan Jambo Aye, Aceh Utara. “Kami juga butuh lapangan kecamatan, karena hingga kini kita belum punya itu. Inilah, beberapa tuntutan kami tahun ini, yang harus dikabulkan oleh pemerintah, karena itu merupakan kebutuhan dasar kami di sini dan kami mohon kepada pemerintah untuk tidak dipenuhi,” demikian Aidi Habibi.

Tuntutan sama juga disampaikan tokoh masyarakat Kecamatan Lhoksukon. Di sana hampir seluruh sarana jalan mengalami rusak parah, contohnya sarana jalan yang dimulai dari Gampong Meunasah Dayah hingga Keude Matang Kuli, kira-kira memiliki panjang enam kilometer. Selain itu, mereka juga meminta perhatian pemerintah untuk membangun saluran irigasi.

“Masyarakat akan sangat berterimakasih, jika tuntutan ini dipenuhi pemerintah di tingkat II Aceh Utara, itu merupakan kebutuhan dasar masyarakat petani di pedesaan dalam Kecamatan Lhoksukon dan selama ini, tuntutan itu belum sepenuhnya dipenuhi oleh pemerintah,” kata Junaidi salah seorang warga kecamatan itu..

Pembangunan yang kita lihat selama ini, belum memiliki tiga hal di atas, contohnya pembangunan sarana jalan, baru tiga bulan dibangun sudah ditumbuhi rumput dan rusak. Saya pikir, model pembanguan seperti ini, hanya akan meperlambat proses pembangunan ke depan, karena model pembangunan ini akan terus berjalan di tempat. Dan kepada pemerintah, saya berharap, harus benar-benar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di tingkat pedesaan”. Ujarnya. (***)

Sarana Informasi Penting Untuk Pembangunan Daerah

Sarana Informasi Penting Untuk Pembangunan Daerah

Laporan : Taufik

Aceh Utara ( Suara Pase ): Masyarakat di Kecamatan Geureudong Pase, kabupaten Aceh Utara sangat mengharapkan dibangunnya satu unit tower jaringan telepon selular di tempat mereka. menurut mereka dengan adanya tower tersebut akan mempermudah untuk pembangunan daerah yang terpencil.

Amir 29 warga Desa Dayah Seupeng mengatakan, kebutuhan akan informasi di daerahnya dirasakan begitu penting, mengingat arus globalisasi informasi yang sudah mendunia menjadi kebutuhan masyarakat yang cukup positif dan sangat di butuh kan.

“Ketinggalan informasi dapat berdampak negatif bagi kehidupan komunitas mayarakat, terutama bagi masyarakat pedesaan dan masyarakat pedalaman. bila hal ini dikesampingkan dapat berdampak pada berbagai aspek buruk dalam sisi kehidupan masyarakat, bisa terjadi konflik sosial dan ini dapat mengancam program-program pemerintah dalam pembangunan dan membuat masyarakat merasa ketinggalan akan informasi,”jelasnya.

Ia menambahkan, sebagai Masyarakat sangat peduli akan bangsa ini untuk hidup layak harmonis dan dapat saling berkomunikasi dan selalu menerima arti pesan-pesan pemerintah yang berarti positif.

Warga berharap kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Pimpinan Telkomsel dan Indosat yang ada di kabupaten Aceh Utara untuk membantu pembangunan satu unit tower telepon selular di Daerah Kecamatan Geureudong Pase.

Ismail 37, menyampaikan jumlah penduduk yang ada di 12 desa di kecamatan Geureudong Pase yang selama ini banyak sekali mengunakan handphon seluler padahal di daerah ini tidak adanya jaringan telekomunikasi, dan handphon tersebut baru bisa di gunakan saat masyarakat turun sejauh 22 kilometer ke kota Kabupaten.

.“Geureudong Pase mempunyai Jumlah penduduk 8.000 jiwa dan terdapat perkebunan sawit, pinang, kakoa ( coklat ) yang sangat berpotensi di Kecamatan yang sangat jauh dari Kota Kabupaten, dan sangat terbuka lebar bagi investor baru yang mau masuk dan menanamkan modalnya di kecamatan tersebut.,”ujarnya.

Warga berharap kepada pemerintah dan instansi terkain supaya secepat nya membangun tower telekomunikasi supaya masyarakat tidak lagi ketinggalan akan informasi dan supaya dengan mudah bisa mengakses komunikasi walau mereka tinggal di daerah pedalaman.(***)

Rapa-i daboh

Hawa Mistis Iringi Suara Rapa-i Daboh

Laporan : Taufik

Minggu dini hari, riuh genderang rapa-i daboh memenuhi seantereo desa Ie Tarek, yang letaknya jauh di pelosok desa di Kecamatan Simpang Keramat. Setidaknya ada 100 orang penabuh rapa-i yang secara terus-menerus menabuh hingga Subuh datang.

Ada secamacam hawa magis yang ditebarkan genderang, membangkitkan semangat, irotis, heroik yang menyihir penonton. Terkadang memang sampai ada pertunjukan menikam diri dengan rencong atau belati. Tapi rapa-i daboh yang berlangsung malam itu tidak begitu, sebab menurut muslim, warga setempat, pertunjukan seperti itu dikhawatirkan akan beresiko.

Demikianpun, tabuhan genderang itu sudah cukup menggetarkan malam. Apalagi suaranya yang nyaring, mengalir cepat hingga ke bukit-bukit dan lembah-lembah yang jauh. Dan malam yang sunyi senyap itu seperti basah oleh keringat para penabuhnya. Bunga-bunga hutan menebarkan aroma ghaib, mengiringi hawa magis yang menggairahkan malam.

Malampun jadi hangat. Orang-orang keluar rumah, berkerumunan di depan Meunasah, tempat peasan (acara) itu berlansung. Tidak hanya orang dari desa setempat, tapi banyak juga khalayak lainnya, yang khusus ingin menyaksikan pertunjukan semalam suntuk itu.

Pedagang musiman pun tidak ketinggalan mengambil kesempatan itu untuk mencari tambahan. Malam di desa pinggir kaki gunung itu berubah layaknya pasar malam. Sungguh suasana yang sebelumnya sangat jarang terjadi, bahkan tidak mungkin, sebab keramaian malam semasa konflik dianggap mengacaukan kegiatan operasi.

Naumun kesenian tradisional Aceh yang kini tergolong langkan itu kembali menghidupakan suasana malam yang sudah lama mencekam. Damai memberikan ruang ekspresi, dan bangkitnya kembali dunia kesenian tradisional di Aceh.

Pertunjukan rapa-i daboh sangat jarang tampil, kecuali pada ajang atau event-event tentertu. Biasanya pertunjukan rapa-i berlangsung setiap ada peringatan hari-hari besar nasional yang digelar di kabupaten atau kecamatan.

Biasanya setiap desa memiliki satu grup rapa-i, ada pertandingan antara kru satu kampung dengan kampung lainnya. Dalam suatu pertandingan umumnya empat grup tampil, yang melibatkan empat kampung. Dengan sendirinya pula warga dari empat kampung itu akan ramai-ramai menyaksikan.

Walaupun empat grup yang tampil, dalam pertandingan cuma ada dua kubu. Satu kubu terdiri dua grup (dua desa) yang bertanding secara terpisah. Berarti dalam sebuah pertunjukan akan ada dua pertandingan, yang masing-masing pertandingan memakan waktu sedikitnya dua jam. Pertandingan itu sendiri biasanya baru dimulai sekitar pukul 23:00 atau pukul 00:00 dini hari, dan berakhir menjelang waktu subuh.

Uniknya dalam pertandingan itu penonton yang menjadi juri. Dan kemenangan itu nantinya bukan pada pemain, melainkan penonton, yang esok harinya akan menjadi bahan perbincangan. “Lazimnya dalam sebuah event memang ada juri ahli. Tapi ini cuma pertandingan persahabatan. Menjaling kemestraan antara orang kampung sana dengan di sini,” jelas Mahyeddin.

Rapa-i daboh adalah permainan yang membutuhkan tenaga ekstra, keahlian, konsentrasi dan tangan yang kekar. Maka, umumnya para pemain daboh berdada bidang dengan otot-otot yang terbentuk. Peluh membasahi anggota tubuh, bahkan seperti tersiram hujam. Dan pukulan genderang itu semakin membuat penonton takjub dengan kebolehan yang padu.

Keindahan kesenian itu terletak pada taing (kenyaringan suara) dan irama yang padu. Sebelum pertunjukan di mulai, mereka rela bersusah payah mengetatkan genderang dengan rotan. Setiap seminggu sekali mereka tidak pernah meninggalkan latihan, dan mendanai semua kegiatan itu dengan uang pribadi.

Tokoh masyarakat setempat, Ismail mengatakan, selain pertunjukan itu langka, dan hanya waktu-waktu tertentu saja, menyebabkan rapa-i daboh menjadi kesenian yang ekslusif. Apalagi, mereka mempunyai banyak pertimbangan sebelum pertunjukan itu diadakan.

Rapa-i daboh memang harus membaca keadaan. Jika suatu desa sedang musibah, atau ada orang sakit, pertunjukan akan dibatalkan. “Suara rapa-i daboh sangat besar. Tentu akan menganggu orang sakit. Jadi pertunjukan ini benar-benar terlaksana kalau keadaan kampung betul-betul aman dan sehat,” tandasnya.

Dia jiga menambahkah, kerena Rapa-i daboh itu memeng kesenian khas aceh yang sudah hampir hilang di masyarakat. Dia berharap agar pemerintah daerah memperhatikan atau sama sama ikut melestarikan budaya aceh itu.ujarnya. (***)

Geureudong Pase dalam pembenahan ekonomi

Geureudong Pase dalam pembenahan ekonomi

Laporan : Taufik

Untuk membangkitkan perekonomian masyarakat Aceh pasca konflik, Pemerintah mencanangkan program revitalisasi Perkebunan untuk masyarakat Aceh dengan tiga jenis tanaman yakni; kepala sawit, kakao dan karet, dengan luas areal mencapai 62.600 hektare.

Untuk Kabupaten Aceh Utara, pemerintah menjatahkan program revitalisasi perkebunan itu seluas 12.000 hektare dengan rinciannya, untuk Kecamatan Geureudong Pasee yang juga merupakan kecamatan termuda di kabupaten dimaksud seluas 4.000 hektare dengan kapasitas 700.000 bibit kelapa sawit. Yang diserahkan melalui Koperasi Unit Desa (KUD) Teladan.

Kemudian 6.000 hektare diberikan kepada Koperasi Meuligo Biram, dan 3.000 hektare untuk koperasi dunia perdana. Vikram manajer Koperasi Teladan dalam hal ini mengatakan, awalnya ini merupakan program dirinya bersama ribuan masyarakat di empat kecamatan yakni Kecamatan Geureudong Pase, Meurah Mulia, Samudera Geudong, dan Kecamatan Blang Mangat.

Setelah dilakukan pembersihan lahan oleh penduduk empat kecamatan tersebut dengan bantuan modal dari PT. Cita Rata yang juga dipegang Vikram baru dilakukan pengajuan permohonan bantuan pada pemerintah setempat untuk modal pembibitan. Dan ternyata, permintaannya disambut positif oleh bupati setempat.

“Alhamdulillah, pemerintah sudah mau membantu dan mendukung kegiatan yang kita laksanakan selama ini. Bantuan itu diberikan lewat program revitalisasi perkebunan. Untuk saat ini pemerintah memberikan bibit sawit sebanyak 700.000 batang dan bantuan obat-obatan,” jelas Vikram atau dikenal dengan sapaan Ayah Banta.

Ayah Banta juga menyebutkan, jumlah masyarakat yang dilibatkan dalam program itu, sebanyak 1.000 Kepala Keluarga (KK). Kata dia, untuk teknisi pembibitan pihaknya meminta bantuan dari Pusat Penelitian Perkebunan Kelapa Sawit (PPPKS) Sumatera Utara.

Silaban, ahli pembibitan dari PPPKS mengatakan, areal perkebunan yang sudah dibersihkan dan akan dijadikan sebagai tempat penanaman kelapa sawit perdana dari program Revitalisasi Perkebunan menyebutkan, areal tersebut sangat ideal, karena di dukung oleh topografinya yang tidak terlalu terjal dan tanah yang gembur, karena menurut dia, tanah yang gembur akan memudahkan akar-akar kelapa sawit nantinya untuk menjalar.

“Varietas sawit yang akan kita tanam nantinya jenis DXP dan jenis sawit ini merupakan sawit terbaik dan paling unggul saat ini di Indonesia,” kata Silaban, seraya menambahkan, “petani hanya butuh waktu selama 24 bulan, kemudian masyarakat sudah bisa menikmati hasilnya.”

Sesuai dengan keterangan Silaban, jenis sawit DXP ini mampu berproduksi sebanyak 31 ton per hektar per tahun dengan rendeman minyak sebanyak 23 hingga 25 persen.

Syarifuddin, SE dalam kunjungannya ke lokasi penanaman perdana kelapa sawit itu menyambut positif hasil kerja masyarakat di Kecamatan Geureudong Pase, karena hal ini merupakan prioritas pemerintah pusat dan pemerintah daerah selama ini. Dan katanya, ini juga kesempatan bagi masyarakat untuk memperbaiki pembangunan ekonomi yang selama ini terpuruk akibat konflik berkepanjangan.

“Hampir 20 tahun terjadi stagnasi pembangunan di Kabupaten Aceh Utara akibat konflik. Baru pada 15 Agustus 2005 suasana damai bisa hadir di Aceh. Untuk membangun Aceh Utara membutuhkan anggaran yang begitu banyak atau sekitar tiga kali lipat dari jumlah APBD Aceh Utara itu sendiri Rp1,4 triliun,” kata Syarifuddin.

Syarifuddin menambahkan, hal-hal yang seperti inilah yang diharapkan pemerintah dari masyarakatnya. Karena dengan begitu, perekonomian di Kecamatan Geureudong Pasee akan terangkat dan hendaknya kegiatan serupa juga diikuti daerah lainnya. “Kita selalu mendukung setiap kegiatan masyarakat yang bernilai positif,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Fuad Mukhtar, S.Sos, Camat Geureudong Pasee juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Ayah Banta yang telah mau berbuat banyak demi membangkitkan perekonomian masyarakat setempat. Karena menurutnya, kegiatan itu merupakan kegiatan yang mendukung program-program pemerintah daerah untuk menciptakan pembangunan ekonomi masyarakat.